🔥 HEADLINES
Loading...

Ekonomi

Post Page Advertisement [Top]

Pandangan Ryan Adriandhy tentang Tayangan Anak-Anak

Sosok Ryan Adriandhy telah dikenal di dunia perfilman lewat karyanya, yaitu Jumbo yang berhasil meraih 10 juta penonton di bioskop, hingga film Na Willa yang sukses curi perhatian publik. Sebagai sutradara, Ryan memiliki pandangan tersendiri tentang tayangan anak-anak. Di hadapan awak media, ia terang-terangan menyatakan ketidaksetujuannya terhadap pendapat orang lain yang menyebut tayangan anak masuk dalam kelas dua, atau jauh di bawah tayangan orang dewasa.

Baginya, anak-anak merupakan audiens tersulit yang dihadapinya dalam membuat film. Ketika berbicara harapan tentang dunia perfilman di masa mendatang, Ryan sangat berharap pendapat orang yang menyepelekan konten anak-anak dapat berkurang drastis. Baginya, hal tersebut sangat menyebalkan, mengingat mengerjakan sebuah tayangan yang ramah untuk kalangan anak terbilang tidak mudah dan penuh tantangan tersendiri.

Terlebih lagi, ia juga menegaskan bahwa konten anak dan keluarga yang dieksekusi dengan sangat baik juga berasal dari para pekerja kreatif kalangan dewasa yang memiliki kepedulian untuk memproduksi dan mengembangkan jenis konten tersebut.

"Itu benar-benar sangat mengganggu. Menurutku, kita harus sama-sama sadar, lantas konten anak dan keluarga yang baik, memang menurut mereka datang dari anak? Itu datang dari orang dewasa yang peduli. Menurutku, pertama, tidak menganggap bahwa konten anak itu lebih simpel, karena dari dua yang saya sudah kerjain saja itu punya challenge tersendiri gitu," ucapnya dalam press conference yang digelar Netflix di kawasan Senayan, Jakarta, Jumat (11/7/2026).

Anak-Anak sebagai Audiens Paling Sulit

Lebih lanjut, Ryan juga gak memungkiri kalau anak-anak sebenarnya merupakan kalangan audiens yang paling sulit untuk dijangkaunya saat membuat film, karena mereka tidak dapat diberikan cerita yang penuh dengan kebohongan. Ia bahkan bercerita soal pengalamannya ketika menggarap film Na Willa yang sempat mendapatkan komentar tajam dari aktornya saat syuting, akibat kurang menyukai salah satu shot adegan. Meski begitu, hal tersebut tidak membuat Ryan langsung menyerah, tapi justru menjadi tantangan yang mengujinya sebagai kreator.

"Ketika menulis karakter anak, aku berusaha semaksimal mungkin untuk tidak berasumsi, 'Oh ini cara anak berpikir,' 'Oh ini yang anak mau,' gitu. Lebih benar-benar turun ke level mereka, dengerin, ngobrol sama mereka, dan ingat saja perasaan kita waktu kecil tuh sebenarnya kita melihat dunia dengan perspektif seperti apa," imbuhnya.

Kekhawatiran Ryan Saat Menggarap Film Na Willa

Ryan sendiri mengakui sempat memiliki rasa kekhawatiran dalam dirinya pada saat menggarap film Na Willa, karena memiliki cerita berlatar 60-an yang notabene tidak terlalu dekat dengan situasi kehidupan anak-anak zaman sekarang. Meski demikian, Ryan pada akhirnya menemukan jalan keluar untuk dengan membawa konsep bercerita untuk film hasil garapannya tersebut. Melalui konsep itulah, Ryan menilai penonton anak-anak bisa terasa lebih dekat dengan cerita yang dihadirkan.

"Salah satu trik yang aku coba lakukan dan ternyata berguna adalah memutuskan secara kreatif bahwa film ini akan dinarasikan oleh Na Willa, sehingga aku punya celah penonton anak-anak bisa merasa, 'Oh ini ada teman gue lagi cerita ke gue.' Aku gak memposisikan penonton tuh sebagai orang dewasa, tapi kayak ada anak umur 6 lagi cerita sama teman-temannya," tambah Ryan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]